Recent Updates RSS Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • forumsastra 4:40 pm pada July 31, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , ,   

    jeritan 

    kami berteriak-teriak, mungkin sudah 3 jam kami begini.
    berjalan dari almamater ketempat para pemimpin dan anak buahnya membuat peraturan dalam gedung ber-ac, kami menyeru-nyeru khalayak masyarakat banyak.

    kota ini penuh sesak, tidak sehat, tidak teratur.
    kalian sibuk dengan anggaran yang seenak jidat kalian,
    tak ayal semua menjadi korupsi dadakan dengan jabatan yang kalian miliki.

    negeri ini tambah hancur, semakin mundur.
    dalam hukum, kebebasan berdemokrasi,
    kemakmuran dan kesejahteraan pun tidak pernah dicapai,
    hanya janji-janji yang di umbar.

    kami menutut hak kami,
    masyarakat telah sesak tak bernapas,
    sudah kalian injak-injak,
    kalian caci maki dalam serapahan kat-kata kalau kami yang tidak teratur.

    bagaimana kami teratur?
    kalian menyontohkan kepada khalayak umum dengan tidak mendidik.
    kalian buat juga generasi kalian tersiksa,
    kalian bilang ini tujuan baik,
    tapi apa harus sejak dini mereka diberi pelajaran yang begitu aneh?. Yang SD belajar materi SMP, SMP belajar materi SMA, dan SMA di beri materi S1?
    apa sistem lembaga di sini sudah hancur?
    jangan buat kami harus memakan terus garam.
    memang tak mudah tapi kalian juga (pejabat-pejabat) harus benahi diri kalian agar kami juga mencontoh yang baik dan disiplin

    Oleh : Hana Nurmala

     
  • forumsastra 4:37 pm pada July 31, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , , ,   

    Berimanlah tanpa rasa takut 

    Kehidupan fana didunia ini memang penuh getir dan nista
    Setiap jengkal setiap langkah adalah ukiran
    Ta’kan hilang terhapus.

    Ketika jatuh Berharap ada yang meraih tubuh,
    Menggenggam tangan,
    Menuntun berjalan…hanya angan.
    Jangan melemahkan….

    Keadaan membuat Terhempas dalam jurang kehidupan
    merangkak dalam kepedihan serta luka dalam.
    Menyakitkan…
    Garis garis bahagia serta duka datang silih berganti.
    Jangan Rapuhkan harapan dan mimpi mimpi
    Mengundang tetes airmata sia sia.
    Mencobalah menahan, mencoba melawan.
    Bukan dengan kekarnya tubuh.
    Bukan dengan merasa kuatnya tenaga,
    Bukan dengan lantangnya suara
    Tapi iman….hanya iman…..

    Berhentilah sejenak ketika lelah menjalani hidup.
    Lantunkan melodi indah Doa doa
    Yang lafadznya begitu merdu menyayat kalbu.
    Pada Tuhanmu….
    Biarkan bergetar jiwa dan sukma
    Biarkan ada tetes airmata.
    Bukan kecengengan,
    Tapi sembah sujud syukur pada-Nya…
    (Lagi …)

     
  • forumsastra 4:33 pm pada July 31, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    anak anak palestina 

    Palestina menangis,sungguh hati ini pedih tersayat.
    Pun hanya mampu melihat dibalik layar.
    Membaca sederet berita diKoran,
    Palestina belum bisa bernafas.
    Ya Allah…………
    Ijinkan aku meminjam kalimat-Mu
    “binasalah Israel…!”
    anak anak lugu dan polos membasuh luka bapaknya.
    Diantara suara bedil meraung….
    Percayalah anakku.
    Sekejam apapun hari yang kau hadapi.
    Jangan terhenti berdoa.
    Allah ada disisimu….

    Anak anak lugu dan polos menjerit,menangis meraung.
    Kurasakan Perihnya pasti jauh lebih perih.
    Sakitnya jauh lebih sakit…
    Diantara silih bergantinya dentuman bom.
    Ada Doa yang menggema.
    terus menggema….
    Granat tak mampu tuk menyumbat.
    Tak terredam oleh gelegar rudal…
    (Lagi …)

     
  • forumsastra 4:30 pm pada July 31, 2010 Permalink | Balas
    Tags: Asmara Edo Kusuma, , , , , , ,   

    Angkara 

    Selesai membenam lisan para nabi
    Di pinggir kubur pandawa

    Kemana kau tuju akan, pisaumu?

    Pisaumu gemilap
    Dengan mayat-mayat tata krama kau serudi

    Kairo, Juli 2010

    Oleh : Asmara Edo Kusuma

     
  • forumsastra 4:25 pm pada July 31, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , ,   

    Pilu Kehidupan 

    Kala itu langit tak nampakan keindahannya,
    Sang mentari tak tersenyum menyambut pagi,
    Bunga-bunga terdiam mendengar lirihan putri raja,
    Hujan turun seakan tak peduli apa yang terjadi,
    Serpihan kenangan menyayat pilu pagi,

    Suasana semakin sunyi,
    tikus-tikus datang tak diundang,
    aroma kesedihan menyesak udara istana,
    kematian datang saat pesta telah usai,
    permainsuri tidur tak bergeming,
    pucat tak tersenyum,
    kesedihan pekat menyelimuti,

    Ratu malam datang menyekat dinding hutan malam,
    Penghuni malam bernyanyi sendu,
    Tangis pecah dalam keheningan malam,
    Sang pujangga memainkan denting-denting penghantar tidur,
    Bintang malam tak pancarkan cahayanya,
    suara musik perlahan hilang tertelan malam..

    Oleh : Hana Nurmala

     
    • abu dabhy 2:23 pm pada Agustus 21, 2010 Permalink | Balas

      “tak semua yg abnormal sukar dinormalkan,
      tapi tak semua yg normal sukar diabnormalkan”

c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
reply
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.